About us

Tampilkan postingan dengan label spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spiritual. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2014

LANJUTAN BHAGAVANTA-PURANA




Bab lima Narada menyarankan Srimad-Bhagavantam untuk Vyasadeva


1. Suta Gosvami mengatakan: Narada duduk dengan nyamannya dan memperlihatkan senyumnya kepada Vedavyasa

2. Ditunjukkan kepada Vyasadeva, Putra dari Parasara, Narada bertanya: Apakah anda puas dengan menyamakan badan atau mind ( pikiran ) sebagai objek dari Kesadaran Diri ?

3. Pencarian anda sudah benar dan pendidikan anda juga sungguh baik. Sehingga tidak ada halangan anda menceritakan Mahabarata, sungguh kerja yang luar biasa dan menarik. Menjelaskan semua weda secara teliti dan tersusun.

4. Anda sudah benar-benar menggambarkan tentang Impersonal Brahman (Tuhan yang sulit digambarkan) dengan baiknya seperti pengetahuan semua datang darinya. Kenapa anda merasa putus asa dengan semua kedengkian ini, Apakah anda berpikir ada yang belum dilakukan ?

5. Sri Vyasadeva berkata: Semua sudah anda katakan tentang saya bahwa sudah benar. Walaupun begitu saya merasa tidak tenang. Untuk itu saya menanyakan kepada anda penyebab dari semua ketidakpuasan saya, saya tahu pengetahuan anda tak terbatas, karena anda keturunan ( cucu ) langsung dari Brahma . yang tak terlahirkan secara duniawi( tanpa ayah dan ibu duniawi).

6. Yang Mulia, segala yang rahasia anda tahu, karena anda memuja Sang Pencipta dan Pelebur Dunia Material dan Pemelihara Dunia Spiritual, Personalitas Tuhan yang asli, melampaui dari Tri Guna.

7. Seperti Matahari, kebaikan anda bisa ada dimana – mana di ketiga dunia, dan seperti udara anda bisa masuk kedalam tempat tinggal semua orang. Sebagaimana kebaikan anda yang bisa meresapi semua jiwa. Saya mohon, cari tahu kekurangan saya walaupun saya sendiri sudah mengerti aturan – aturan agama dan sumpahnya.

8. Sri Narada mengatakan: anda sesungguhnya tidak menyebarkan tentang keagungan dan menitikberatkan pada kejayaan dari Personalitas Tuhan. Filsafat yang anda jelaskan sebelumnya tersebut tidak akan memuaskan Tuhan, yang sesungguhnya lebih dari itu. jadi dipandang tidak bernilai.

9. Walaupun anda sudah dengan sangat luasnya menjelaskan dari awal empat dasar pokok dari kegiatan beragama, tapi anda tidak menggambarkan keagungan dari Personalitas Tuhan, Vasudeva.

10. Setiap kata – kata yang tidak menggambarkan keagungan Tuhan, yang dengan sendiri bisa menyucikan seluruh atmosphere alam semesta ini, dipandang oleh para terpelajar seperti tempat suci bagi burung gagak. Biarpun orang sempurna adalah penghuni tempat yang ini, mereka tidak akan mendapatkan kesenangan dari sana.

11. Lain halnya bila sastra – sastra menjelaskan secara detail tentang keagungan nama – nama yang tanpa batas, kemashyuran, wujud, masa lalu, dll. Tuhan Maha tinggi adalah berbeda dengan ciptaan, Melampaui kata – kata, secara langsung membawa perubahan kepada mahluk yang tidak beriman di dunia ini pada peradaban yang salah arah. Sastra yang seperti itu walaupun disusun kurang lengkap, didengar, dinyanyikan, diterima oleh orang suci yang dengan sendirinya menjadi jujur dan baik.

12. Pengetahuan tentang Kesadaran Diri, meskipun membebaskan diri dari hubungan material, tidak akan kelihatan baik tanpa pemikiran yang sempurna. Selanjutnya apa gunanya kegiatan ritual, secara sadar menyakitkan dari awal dan hanya bersifat sementara karena pengaruh Tri Guna, jika tidak berdasarkan pelayanan Kepada Tuhan?

13. O Vyasadeva, Pandangan anda benar – benar sempurna. Anda sungguh termashyur. Anda kuat dalam sumpah dan doa dan berada dalam kepercayaan penuh. Dengan begitu anda bisa memikirkan masa lalu Tuhan. Untuk kebebasan umat manusia dari jeratan dunia material.

14. Bagaimanapun keinginan untuk menggambarkan Tuhan apabila terpisah dari pandangan Tuhan bisa memberikan reaksi, dengan bentuk yang berbeda, nama- nama dan hasilnya, bisa meresahkan pikiran seperti Angin menggoncang perahu dan tidak ada tempat untuk istirahat.

15. Orang - orang secara alamiah ingin menikmati kesenangan. Dan anda telah mendorongnya untuk menikmati itu dengan nama Agama. Ini sungguh sangat menjatuhkan dan sunguh bertentangan dengan akal. Karena mereka dituntun oleh petuah anda, mereka tentu akan menerima aktivitas ini dengan nama agama dan sungguh – sungguh peduli pada larangan – larangannya.

16. Tuhan yang maha esa tidak terbatas. Oleh karenanya hanya orang – orang yang berkepribadian dan ahli yang mau meninggalkan Kesenangan duniawi, mampu memahami pentingnya pengetahuan spiritual ini. Untuk itu seseorang yang tidak dalam kondisi baik, karena pengaruh dunia materi, seharusnya ditunjukkan jalan Kesadaran Diri, dengan kebaikan anda, lewat penjelasan dari aktivitas Tuhan yang tak terbayangkan.

17. Seseorang yang telah mendedikasikan Pekerjaaan duniawinya dan menyibukkan diri dalam pelayanan Tuhan, bisa saja jatuh ketika masih dalam tahap belajar, semuanya itu  walaupun tanpa kesuksesan bukannya tidak ada gunanya. Lain halnya dengan yang tidak punya pelayanan kepada Tuhan, pikiran nya selalu disibukkan dengan tugas duniawinya, itu tidak akan menghasilkan apa – apa dalam dunia spiritual.

18. Orang yang benar – benar cerdas dan punya filsafat seharusnya hanya cenderung tujuan akhirnya seperti itu ( Pelayanan Tuhan), bukan untuk memperoleh alam Brahma (brahmaloka) atau alam paling bawah seperti Patala. Sejauh kebahagiaan hanya didapatkan dari kebahagiaan pikiran, seiring dengan berjalannya waktu itu akan bisa kita dapatkan, tapi seiring berjalannya waktu kita juga akan terus mendapatkan ilusi walaupun tidak kita inginkan.

19. Maharsi, bahkan jika seorang Pencinta Tuhan Krisna sewaktu – waktu jatuh, dia sungguh – sungguh di luar pengaruh Duniawi tidak seperti yang lainnya ( bekerja mengharapkan hasil, dll) karena seseorang yang sudah pernah sekali saja merasakan Kaki padmanya Tuhan tidak bisa berbuat apa – apa tapi ingatan akan kecintaan Tuhan akan datang lagi dan lagi.

20. Personalitas Tuhan yang maha tinggi ini adalah diriNYa sendiri dalam alam semesta yang luas ini, semua adalah diriNya. Hanya dari beliaulah Semuanya ini berasal, kembali lagi kepadaNya sesudah terjadinya Penghancuran. Anda tahu betul tentang semua ini. Saya hanya memberikan ringkasan.

21. Anda mempunyai pandangan yang sempurna tentang kebaikan. Anda sendiri tahu Jiwa tertinggi dari kepribadian(personalitas) Tuhan karena anda hadir disini sebagai bagian sempurna dari Tuhan. Walaupum anda tak terlahirkan, anda hadir di dunia ini untuk kebaikan mahluk hidup dan semua orang. Untuk itu tolong gambarkan masa lalu dari Personalitas Tuhan Sri Krisna yang selalu melampaui dengan lebih jelas.

22. Orang – Orang terpelajar punya kesimpulan yang baik dan tujuan sempurna dari Pengetahuan kedepannya, dengan sungguh – sungguh belajar weda- weda, melakukan Pengorbanan, menyampaikan doa-doa dan berderma, dan mencapai puncaknya dalam Pelayanan kepada Tuhan, semuanya dijelaskan dalam bentuk puisi.

23. O muni, pada zaman yang lalu, saya lahir sebagai seorang anak laki-laki tepatnya pembantu, disibukkan untuk melayani para brahmana yang mengikuti prinsip Wedanta. Ketika mereka tinggal bersama – sama selama empat bulan di waktu musim hujan, saya secara pribadi melayani semuanya.

24. Walaupun mereka masih di bawah pengaruh Tri Guna, semua pengikut ajaran wedanta itu memberkati saya dengan kemurahan hatinya. Seketika saya sadar, saya bisa mengontrol diri saya dan tidak terikat dengan kesenangan, walaupun saya masih muda. Akibatnya saya tidak nakal dan tidak berbicara jika tidak diperlukan.

25. Suatu hari, dengan ijin dari semuanya, saya memakan sisa dari makanan beliau dengan melakukan itu semua dosa saya terhapus. Menyibukkan diri dengan pelayanan, hati saya menjadi suci dan pada saat itu pelayanan kepada Tuhan sangat menarik perhatian saya.

26. O Vyasadeva, dengan bergabung dan karena kemurahan hati para penganut weda itu, saya bisa mendengarkan mereka menggambarkan aktivitas Tuhan Krisna yang begitu memikat, mendengarkannya secara sungguh – sungguh , secara perlahan saya selalu berkeinginan untuk mendengarkan Personalitas Tuhan.

27. O yang paling Bijaksana, dengan segera saya bisa merasakan Personalitas Tuhan, perhatian saya selalu tertarik untuk mendengarkan Tuhan. Seiring dengan dibangunya perasaan saya , saya jadi sadar bahwa semua ini hanya karena kebodohan . saya menerima badan halus dan kasar ini. Tuhan dan saya keduanya adalah sama ( Tat Twam Asi ) .

28. Selama dua musim – musim hujan dan musim semi – saya mempunyai kesempatan untuk mendengarkan – para jiwa yang bijaksana itu menceritakan cerita yang murni tentang kebesaran dari Tuhan Hari. Seperti arus air saya memulai Pelayanan kepada Tuhan, sifat tri guna yang menutupi selama ini seperti hawa nafsu dan kebodohan dihapuskan.

29. Saya sangat dipengaruhi oleh mereka semua, saya jadi bisa bersikap baik, dan seluruh dosa saya lenyap karena melayani mereka. Dalam hati saya mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap mereka. Saya sudah menaklukkan indria, saya secara keras mengikuti mereka dengan badan dan pikiran

30. Ketika para pencinta wedanta itu semua sudah meninggal, mereka yang sungguh sangat baik kepada jiwa yang hatinya begitu miskin, memberi tahu saya sesuatu yang paling rahasia yang disampaikan oleh Tuhan sendiri.

31. Dengan Pengetahuan rahasia ini, saya jadi bisa mengerti dengan jelas pengaruh dari energi Tuhan Krisna, sebagai pencipta, pemelihara, pelebur kesemuanya ini. Dengan mengetahuinya seseorang bisa kembali kepadaNya and secara pribadi bertemu denganNya.

32. O Maharesi Vyasadeva, telah diputuskan oleh orang bijaksana ukuran untuk menyembuhkan, menghilangkan segala masalah dan khayalan dengan cara mendedikasikan seluruh kegiatan pada pelayanan kepada Kepribadian tertinggi dari Tuhan(Sri Krisna).

33. O jiwa yang mulia, tiada lagi yang lain, lakukan pengobatan, sembuhkan segala penyakit yang disebabkan oleh semua itu?

34. Ketika setiap orang aktivitasnya ditunjukkan untuk Pelayanan kepada Tuhan, perbudakan dari karma phala bisa di hancurkan.

35. Apapun jenis pekerjaan yang dilakukan di kehidupan ini jika tujuannya untuk memuaskan Tuhan itu dikatakan bhakti yoga, atau dikatakan pelayanan cinta kasih kepada Tuhan dan itu pula yang namanya Pokok Pengetahuan.

36. Ketika menjalankan tugas sesuai dengan apa yang diperintahkan Sri Krisna, Personalitas tertinggi Tuhan, seseorang secara tetap bisa mengingatNya, Nama - namaNya, dan kualitasNya.

37. Marilah kita ceritakan seluruh keagungan dari Vasudeva bersama kesempurnaanya yang ditunjukkan lewat Pradyuma, Aniruddha, dan Sankarsana.

38. Itulah sebenarnya yang dicari oleh para pemuja, di lakukan dalam bentuk Pelayanan kepada Personalitas Tuhan, Visnu, tanpa mempunyai wujud material.

39. O brahmana, oleh karena Tuhan Krisnalah saya dianugerahi Pengetahuan yang abadi ini, Pengetahuan Tuhan seperti yang diajarkan secara rahasia oleh Weda – Weda. Dan juga dikarenakan oleh pencapaian Pengetahuan spiritual dan Kecintaan saya pada Pelayanan kepada Beliau.

40. Mohon, untuk itu , gambarkan Kegiatan – kegiatan Tuhan yang begitu luar biasa ,sama seperti luasnya Pengetahuan Weda, untuk kepuasan dari hasrat para terpelajar dan lain daripada itu bisa meringankan kesengsaraan rakyat jelata yang merupakan bagian terbesar dari penduduk yang selalu menderita oleh kepedihan Material. Sesungguhnya, tidak ada cara lain untuk menghilangkan kesengsaraan.

Selasa, 07 Agustus 2012

vedanta sutra

SRIMAD BHAGAVATAM--THE NATURAL COMMENTARY ON VEDANTA (ARTHO 'YAM
                            BRAHMA-SUTRANAM)

     A STUDY GUIDE BASED UPON THE GOVINDA-BHASYA OF SRILA BALADEVA
                              VIDYABHUSANA


                              INTRODUCTION

     The word Veda means 'knowledge.'  In the modern world, the term
'science' is used to identify the kind of authoritative knowledge upon
which human progress is based.  To the ancient people of Bharatavarsa,
the word Veda had an even more profound import than the word science has
for people today.  That is because in those days scientific inquiry was
not restricted to the world perceived by the physicial senses.  And the
definition of human progress was not restricted to massive technological
exploitation of material nature.  In Vedic times, the primary focus of
science was the eternal, not the temporary; human progress meant the
advancement of spiritual awareness yielding the soul's release from the
entrapment of material nature, which is temporary and full of ignorance
and suffering.

     Vedic knowledge is called apauruseya, meaning that it is not
knowledge of human invention.  Vedic knowledge appeared at the dawn of
the cosmos within the heart of Brahma, the lotus-born demigod of
creation from whom all the species of life within the universe descend.
Brahma imparted this knowledge in the form of sabda (spiritual sound) to
his immediate sons, who are great sages of higher planetary systems like
the Satyaloka, Janaloka and Tapaloka.  These sages transmitted the Vedic
sabda to disciples all over the universe, including wise men of earth in
ancient times.  Five thousand years ago the great Vedic authority Srila
Krsna Dvaipayana Vyasa compiled the sabda into Sanskrit scripture
(sastra) which collectively is known today as 'the Vedas.'

     In the India of old, the study of the Vedas was the special
prerogative of the brahmanas (the priestly and intellectual class).
There were four degrees of education in Vedic knowledge that
corresponded to the four asramas of brahminical culture (the brahmacari
or student asrama, the grhastha or householder asrama, the vanaprastha
or retired asrama and the sannyasa or renounced asrama).  The first
degree of learning was the memorization of the Vedic Samhita, which
consists of thousands of mantras (verses) divided into four sections--
Rg, Sama, Yajur and Atharva--that are chanted by priests in
glorification of the Supreme Being during sacrificial rituals.  The
second degree was the mastery of the Brahmana portion of the Vedas,
which teaches rituals for fulfillment of duties to family, society,
demigods, sages, other living entities and the Supreme Lord.  The third
degree was the mastery of the Aranyaka portion, which prepares the
retired householder for complete renunciation.  The fourth degree was
the mastery of the Upanisads, which present the philosophy of the
Absolute Truth to persons seeking liberation from birth and death.

     The texts studied in the four stages of formal Vedic education are
collectively called sruti-sastra, 'scripture that is to be heard' by the
brahmanas.  But sruti-sastra is not all there is to the Vedic
literature.  Chandogya Upanisad 7.1.2 declares that the Puranas and
Itihasas comprise the fifth division of Vedic study.  The Puranas and
Itihasas teach the same knowledge as the four Vedas, illustrating it
with extensive historical narrations.  The fifth Veda is known as
smrti-sastra ('scripture that must be remembered'); Srila Vyasadeva
compiled it into eighteen Puranas and the Mahabharata.  Smrti-sastra
study was permitted to non-brahmanas.  At Naimasaranya, therefore, Suta
Gosvami, a non-brahmana by birth, was requested by the great assembly of
brahmanas to recite the Srimad-Bhagavata Maha-purana that his father
Romaharsana had learned directly from Vyasa.

     Before Vyasadeva's compilation, the Vedas had long been taught in
the brahmana-asramas by six schools of Vedic philosophy.  Each of these
schools had come to be associated with a famous sage who was the author
of a sutra (code) expressing the essence of his darsana (standpoint on
the ultimate meaning or purpose of the Veda).  To dispel the confusion
that had arisen among brahmanas because of the incongruities of these
standpoints, Vyasa wrote Vedanta-sutra as a final judgement on the
arguments of the six schools as well as those of other philosophies.
Vedanta-sutra forms the third great body of Vedic literature after the
sruti-sastra and smrti-sastra.  It is known as the nyaya-sastra,
'scripture of philosophical disputation.'

     The sad-darsana (six standpoints) are Nyaya (logic), Vaisesika
(atomic theory), Samkhya (analysis of matter and spirit), Yoga (the
discipline of self-realization), Karma-mimamsa (science of fruitive
work) and Vedanta (science of God realization).

     The sad-darsana are termed astika (from asti, or 'it is so'),
because they all acknowledge the Veda to be authoritative.  The nastika
philosophies of the Carvakas, Buddhists and Jains (nasti, 'it is not
so'), reject the Vedas.  Beginning with Nyaya, each of the sad-darsanas
in their own turn presents a more developed and comprehensive
explanation of the conclusion of Vedic knowledge.  Nyaya sets up the
rules of philosophical debate and identifies the basic subjects under
discussion: the physical world, the soul, God and liberation. Vaisesika
engages the method of Nyaya or logic in a deeper analysis of the
predicament of material existence by showing that the visible material
forms to which we are all so attached ultimately break down into
invisible atoms.  Samkhya develops this analytical process further to
help the soul become aloof to matter.  Through Yoga, the soul awakens
its innate spiritual vision to see itself beyond the body. Karma-mimamsa
directs the soul to accept the duties prescribed in the Vedic
scriptures.  Vedanta focuses on the supreme goal taught in the
Upanisads.

     Originally, the six darsanas were specialized fields within
a harmonious, comprehensive study of the Veda.  The purest and most
ancient versions of these darsanas are found in Srimad-Bhagavatam,
propounded by great mahajanas like Brahma, Narada, Siva, the four
Kumaras, Devahuti-putra Kapiladeva and Sukadeva Gosvami.  But later and
far lesser scholars of the darsanas advanced opposing, contentious
points of view.  Thus Vedic philosopy came to be misrepresented for
selfish ends.  For instance, Karma-mimamsa (which by 500 BC had become
the foremost philosophy of the brahmana class) was misused by
bloodthirsty priests to justify their mass slaughter of animals in Vedic
sacrifices.  But the unexpected rise of a novel non- Vedic religion
challenged the power of Karma-mimamsa.  This new religion was Buddhism.
When King Asoka instituted the Buddha's doctrine as the state religion
of his empire, many brahmanas abandoned Vedic scholarship altogether to
learn and teach nastika concepts of ahimsa (nonviolence) and sunyata
(voidism).  This seriously eroded the influence of the astika schools.

     In the seventh century after Christ, Buddhism in its turn was
eclipsed by the rise of the teachings of the Vedantist Sankara, who
revived the Vedic culture all over India. But Sankara's special
formulation of Vedanta was itself influenced by Buddhism and is not
truly representative of the original Vedanta-darsana taught by Vyasa.

     After Sankara, Vedanta was refined by the schools of great teachers
(acaryas) like Ramanuja, Madhva and Sri Caitanya Mahaprabhu. Having shed
the baggage of Sankara's crypto-Buddhism, Vedanta philosophers soared to
heights of dialectical sophistication that has been much appreciated by
many Western intellectuals.  Vedantic dialectics are represented today
in the bhasyas (commentaries) of the acaryas and the tikas
(subcommentaries) of their disciples.  All possible philosophical
positions, including some bearing remarkable resemblance to the ideas of
European philosophers, are therein proposed, analyzed and refuted.

     Vedanta study is jnana-yoga, the yoga of theoretical knowledge. But
from jnana one must come to vijnana, practical realization of the
ultimate truth.  The theoretical dialectics (sastratha) of Vedanta twist
and turn from thesis (purvapaksa) to antithesis (uttarapaksa) to
synthesis (siddhanta) like the gnarled branches of a tree.  But the ways
of philosophical disputation do not themselves add up to the Absolute
Truth.  The Absolute Truth, being transcendental, is only indirectly
framed in the branches of jnana, like the rising full moon may be framed
by the branches of a tree.  A friend who wishes us to see the moon may
first draw our attention to that tree.  This may be compared to the
indirect or theoretical stage of knowledge.  Actually seeing the moon is
vijnana.

     There is a straightforward path to vijnana.  It is explained by the
Supreme Personality of Godhead to Brahma in Srimad-Bhagavatam 2.9.31:

                          sri-bhagavan uvaca
                        jnanam parama-guhyam me
                         yad vijnana-samanvitam
                        sarahasyam tad-angam ca
                          grhana gaditam maya

                              TRANSLATION

     The Personality of Godhead said: Knowledge about Me as described in
the scriptures is very confidential, and it has to be realized in
conjunction with devotional service. The necessary paraphernalia for
that process is being explained by Me. You may take it up carefully.

     This verse, which establishes that vijnana is attainable by one who
coordinates scriptural study with pure devotional service, is the
prelude to the Catuhsloki Bhagavatam, the four original verses of the
Srimad-Bhagavatam spoken before creation by the Lord to His servant
Brahma. (Bhag. 2.9.33-36)  Five thousand years ago, the Catuhsloki
Bhagavatam was expanded into 18,000 verses by Srila Vyasadeva as his own
commentary on Vedanta-sutra.  The Srimad-Bhagavatam, then, is meant for
persons who are willing to go beyond mere thinking about the Absolute
Truth to the realized stage of practical engagement--body, mind, soul
and words--in the ninefold angas (divisions) of devotional service to
Krsna.  As Sri Prahlada Maharaja states, kriyeta bhagavaty addha tan
manye 'dhitam uttamam: 'One who has dedicated his life to the service of
Krsna through these nine methods should be understood to be the most
learned person, for he has acquired complete knowledge.' (Bhag. 7.5.24)

     The study guide that follows is designed to help the student of
Srimad-Bhagavatam to 1) discern the original Bhagavata versions of the
six darsanas, 2) learn the Srimad-Bhagavatam's answers to challenges
fired from many different philosophical stances, and 3) appreciate the
solid Vedic philosophical foundation of Krsna-bhakti.  In this guide,
verses of the Srimad-Bhagavatam are presented as commentaries on
philosophical controversies raised in the Vedanta-sutra.  The outline of
Vedanta controversies provided by this guide is drawn from the
Govinda-bhasya of Srila Baladeva Vidyabhusana.  The Govinda-bhasya
quotes a number Bhagavatam verses deemed to be the elucidations of
specific sutras.  All verses mentioned therein are incorporated into
this study guide.  And wherever the Govinda-bhasya provides no
Bhagavatam verses to match the Vedanta, other Vaisnava studies of the
Srimad-Bhagavatam were consulted.  They are: Sri Bhagavata-arka Marici
Mala by Srila Bhaktivinoda Thakura, Sri Bhakti Ratnavali by Visnu Puri,
Vedanta-darsana by Haridasa Sastri and--first and foremost--the
computerized BBT Folio of the books of His Divine Grace A. C.
Bhaktivedanta Swami Prabhupada.

    Readers should note that this study guide examines the Srimad-
Bhagavatam from a very specific angle of vision--Vedanta philosophy-- so
as to heighten our appreciation and understanding of certain verses that
may have escaped our careful consideration due to their seeming
technical or esoteric nature.  Thus this study guide is really aimed at
augmenting an already developed appreciation for Bhagavata philosophy.
It is not conceived of as a general introduction to the Srimad
Bhagavatam.  Nor is it meant to be an exhaustive study of the
Vedanta-sutra either.  Many of the finer details of Vedanta philosophy
that are dealt with in Govinda-bhasya can find no place in such a work
as this, which utilizes Vedanta only as a background reference for
a deeper understanding of the Srimad-Bhagavatam.

SRILA PRABHUPADA ON THE SRIMAD-BHAGAVATAM AS THE NATURAL COMMENTARY ON
VEDANTA-SUTRA

From Teachings of Lord Kapila, Chapter 4: 'Srimad-Bhagavatam is
a commentary on Vedanta-sutra. Vedanta-sutra explains that the Supreme is
the source of everything, and the nature of that source is explained in
Srimad-Bhagavatam (1.1.1): janmady asya yato 'nvayad itaratas carthesv
abhijnah svarat. That source is abhijna, cognizant.  Matter is not
cognizant; therefore the theory of modern science that life comes from
matter is incorrect. The identity from whom everything emanates is
abhijna, cognizant, which means He can understand.  The Bhagavatam
(1.1.1) also states, tene brahma hrda ya adi-kavaye: Krsna instructed
Lord Brahma in Vedic knowledge. Unless the ultimate source is a living
entity, how can He impart knowledge? Srimad-Bhagavatam was compiled by
Vyasadeva, who also compiled the Vedanta-sutra.  Generally the Mayavadis
emphasize the commentary made on the Vedanta-sutra by Sankaracarya, the
Sariraka-bhasya, but that is not the original commentary on
Vedanta-sutra. The original commentary is given by the author himself,
Vyasadeva, in the form of Srimad-Bhagavatam. To understand the actual
meaning of the Vedanta-sutra, we must refer to the commentary made by
the author himself. As stated by Sri Krsna Himself in Bhagavad-gita
(13.5):

                         rsibhir bahudha gitam
                      chandobhir vividhaih prthak
                       brahma-sutra-padais caiva
                        hetumadbhir viniscitaih

"The knowledge of the field of activities and of the knower of
activities is described by various sages in various Vedic writings--
especially in the Vedanta-sutra--and is presented with all reasoning as
to cause and effect."

Transcendental knowledge is therefore very logical.  According to the
Vedic system, the acarya must understand Vedanta-sutra (also called
Brahma-sutra) before he can be accepted as an acarya.  Both the
Mayavada-sampradaya and the Vaisnava-sampradaya have explained the
Vedanta-sutra. Without understanding Vedanta-sutra, one cannot
understand Brahman.'

From Sri Caitanya-caritamrta, Adi-lila, Chapter 7, Text 72, purport:
'Knowledge of the unlimited is actual brahmajnana, or knowledge of the
Supreme. Those who are addicted to fruitive activities and speculative
knowledge cannot understand the value of the holy name of the Lord,
Krsna, who is always completely pure, eternally liberated and full of
spiritual bliss.  One who has taken shelter of the holy name of the
Lord, which is identical with the Lord, does not have to study Vedanta
philosophy, for he has already completed all such study.

One who is unfit to chant the holy name of Krsna but thinks that the
holy name is different from Krsna and thus takes shelter of Vedanta
study in order to understand Him must be considered a number one fool,
as confirmed by Caitanya Mahaprabhu by His personal behavior, and
philosophical speculators who want to make Vedanta philosophy an
academic career are also considered to be within the material energy.
A person who always chants the holy name of the Lord, however, is already
beyond the ocean of nescience, and thus even a person born in a low
family who engages in chanting the holy name of the Lord is considered
to be beyond the study of Vedanta philosophy.  In this connection the
Srimad-Bhavatam states:

                     aho bata svapaco' to gariyan
                  yaj-jihvagre vartate nama tubhyam
                 tepus tapas te juhuvuh sasnur arya
                   brahman ucur nama grnanti ye te

"If a person born in a family of dog-eaters takes to the chanting of the
holy name of Krsna, it is to be understood that in his previous life he
must have executed all kinds of austerities and penances and performed
all the Vedic yajnas." (SB. 3.33.7) Another quotation states:

             rg-vedo 'tha yajur-vedah sma-vedo 'py atharvanah
              adhitas tena yenoktam harir ity aksara-dvayam

"A person who chants the two syllables Ha-ri has already studied the
four Vedas--Sama, Rk, Yajuh and Atharva."

Taking advantage of these verses, there are some sahajiyas who, taking
everything very cheaply, consider themselves elevated Vaisnavas but do
not care even to touch the Vednta-sutras or Vedanta philosophy.  A real
Vaisnava should, however, study Vedanta philosophy, but if after
studying Vedanta one does not adopt the chanting of the holy name of the
Lord, he is no better than a Mayavadi.  Therefore, one should not be
a Mayavadi, yet one should not be unaware of the subject matter of Vedanta
philosophy.  Indeed, Caitanya Mahaprabhu exhibited His knowledge of
Vedanta in His discourses with Prakasananda Sarasvati. Thus it is to be
understood that a Vaisnava should be completely conversant with Vedanta
philosophy, yet he should not think that studying Vedanta is all in all
and therefore be unattached to the chanting of the holy name. A devotee
must know the importance of simultaneously understanding Vedanta
philosophy and chanting the holy names. If by studying Vedanta one
becomes an impersonalist, he has not been able to understand Vedanta.
This is confirmed in Bhagavad-gita (Bg. 15.15).  Vedanta means "the end
of knowledge." The ultimate end of knowledge is knowledge of Krsna, who
is identical with His holy name.  Cheap Vaisnavas (sahajiyas) do not
care to study the Vedanta philosophy as commented upon by the four
acaryas.  In the Gaudiya- sampradaya there is a Vedanta commentary
called the Govinda-bhasya, but the sahajiyas consider such commentaries
to be untouchable philosophical speculation, and they consider the
acaryas to be mixed devotees. Thus they clear their way to hell.'

From Caitanya-caritamrta, Adi-lila, Chapter 7, Text 102, Purport: 'The
Mayavadi sannyasis, appreciating Lord Caitanya Mahaprabhu, inquired from
Him why He did not discuss Vedanta philosophy.  Actually, however, the
entire system of Vaisnava activities is based on Vedanta philosophy.
Vaisnavas do not neglect Vedanta, but they do not care to understand
Vedanta on the basis of the Sariraka-bhasya commentary. Therefore, to
clarify the situation, Lord Sri Caitanya Mahaprabhu, with the permission
of the Mayavadi sannyasis, wanted to speak regarding Vedanta philosophy.
The Vaisnavas are by far the greatest philosophers in the world, and the
greatest among them was Srila Jiva Gosvami Prabhu, whose philosophy was
again presented less than four hundred years later by Srila
Bhaktisiddhanta Sarasvati Thakura Maharaja. Therefore one must know very
well that Vaisnava philosophers are not sentimentalists or cheap
devotees like the sahajiyas.  All the Vaisnava acaryas were vastly
learned scholars who understood Vedanta philosophy fully, for unless one
knows Vedanta philosophy he cannot be an acarya. To be accepted as an
acarya among Indian transcendentalists who follow the Vedic principles,
one must become a vastly learned scholar in Vedanta philosophy, either
by studying it or hearing it.

Bhakti develops in pursuance of Vedanta philosophy. This is stated in
Srimad-Bhagavatam (1.2.12):

                        tac chraddadhana munayo
                        jnana-vairagya-yuktaya
                        pasyanty atmani catmanam
                        bhaktya sruta-grhitaya

The words bhaktyasruta-grhitaya in this verse are very important, for
they indicate that bhakti must be based upon the philosophy of the
Upanisads and Vedanta-sutra. Srila Rupa Gosvami said:

                         sruti-smrti-puranadi-
                         pancaratra-vidhim vina
                         aikantiki harer bhaktir
                         utpatayaiva kalpate

"Devotional service performed without reference to the Vedas, Puranas,
Pancaratras, etc., must be considered sentimentalism, and it causes
nothing but disturbance to society." There are different grades of
Vaisnavas (kanistha-adhikari, madhyama-adhikari, uttama-adhikari), but
to be a madhyama-adhikari preacher one must be a learned scholar in
Vedanta-sutra and other Vedic literature because when bhakti-yoga
develops on the basis of Vedanta philosophy it is factual and steady. In
this connection we may quote the translation and purport of the verse
mentioned above (SB. 1.2.12):

                            TRANSLATION

That Absolute Truth is realized by the seriously inquisitive student or
sage who is well equipped with knowledge and who has become detached by
rendering devotional service and hearing the Vedanta-sruti.'

From a lecture by Srila Prabhupada, given on January 11, 1967: 'So far
Vedanta-sutra is concerned, Bhagavata is Vedanta-sutra itself. Bhagavata
is the natural commentary on the Vedanta-sutra.  Therefore one who has
sufficient knowledge in Bhagavata, he has automatically sufficient
knowledge in Vedanta-sutra.'

Senin, 03 Januari 2011

Lanjutan Identitas Asli Shiva dan Durga

Bhakta KRISHNA menghormati SHIVA
Dan SHIVA menghormati mereka
       Shiva hadir di Dunia ini demi kepentingan semua orang, dan berusaha menolong mahluk hidup ke arah kemajuan spiritual. Karenanya beliau mempunyai garis perguruan spiritual sendiri. Beliau berkata kepada putra dari Raja Pracinibarhi, “Siapapun yang berserah diri kehadapan  Kepribadian Tertinggi dari Tuhan, Krishna, yang mengendalikan segalanya, aku sangat menghormatinya.”  
Putra dari Raja ini berkeinginan untuk melakukan pertapaan untuk memuja Tuhan Vishnu dan saat mencari tempat yang pantas, bertemu dengan Dewa Shiva. Badannya berkilau keemasan, lehernya kebiru-biruan, memiliki tiga mata, dan ditemani oleh para ahli musik yang sedang mengagungkannya. Shiva adalah pelindung dari orang saleh dan mereka yang memiliki sifat  baik. Sehingga beliau dengan senang hati menyarankan ke pangeran itu. Selanjutnya beliau berkata:
       “Seseorang yang secara langsung memasrahkan hidupnya kepada Tuhan Krishna, atau Vishnu, dengan jalan Pelayanan Bakti dengan segera mendapatkan tempat di Dunia spiritual. saya, Dewa Shiva, dan dewa- dewa yang  lain mencapai planet ini hanya setelah hancurnya dunia . Kamu adalah bhakta Tuhan, dan aku menghormatimu sama halnya aku menghormati Kepribadian Tertinggi dari Tuhan Sendiri. Aku mengetahui bahwa mereka menyayangiku dan akupun sayang pada mereka. Tidak ada siapapun yang sayangnya ke para bhakta seperti aku
       Dengan begitu, para bhakta Krishna tidak pernah meremehkan Shiva, tapi memujanya sebagai Bhakta terbaik dari Tuhan Krisna. Seorang bhakta Krishna juga berdoa ke Dewa Shiva, tapi meminta Shiva untuk membantunya mencapai Tuhan Krisna, dan tidak sekadar untuk kepentingan materi. seperti kita temukan pada Tulasi Ramayana (Uttara Kanda, Doha 45), Tuhan Rama mengatakan “ ada suatu rahasia yang tersembunyi seperti doktrin ada udang di balik batu: tanpa memuja Sankara ( Dewa Shiva) seseorang tidak dapat mencapai pengabdian kepadaku.” Sehingga dengan cara ini, Shiva dapat membantu kita di dalam mencapai pengabdian ke Tuhan Krishna dan ekpansinya.

       Setelah Dewa Shiva berkata kepada putra dari Raja Pracinabarhi, beliau memberikan sebuah mantra yang sangat bermanfaat, sangat suci dan menguntungkan bagi seseorang yang ingin mencapai tujuan utama dari kehidupan. mantra ini disebut nyanyian Shiva, mulai dari sajak 33 sampai 79, bagian ke Duapuluh Bab ke-empat dari Srimad Bhagavatam . Beliau mengawali doanya dengan sajak ini:
       “O Kepribadian Tertinggi dari Tuhan, semua keagungan untukMu. Anda adalah yang paling termulia dari semua jiwa yang berkesadaran. Karena anda selalu memberi berkat pada mereka,, saya berharap bahwa Anda memberkatiku. Anda dipuja berdasarkan petunjuk sempurna  yang anda berikan. Anda adalah jiwa tertinggi; oleh sebab itu saya menyampaikan salam hormat sebagai mahluk  hidup tertinggi.”
       Sementara sisa dari 45 sajak doa ini, Dewa Shiva memuji berbagai kualitas, karakteristik, dan kekuatan dari kehidupan Tertinggi dalam wujudnya sebagai Tuhan Krishna. Setelah bertahun – tahun berdoa dengan mantra tersebut,, para putra Raja dipanggil dengan sebutan para Praceta, Tuhan Vishnu Sendiri hadir  dihadapan mereka. Dan berkata, “Mereka – mereka yang berdoa sesuai dengan petunjuk Dewa Shiva, baik di pagi hari atau malam hari, akan kuberkati. Dengan cara ini mereka dapat memenuhi keinginan dan mendapatkan pengetahuan yang baik.
      Masih pada Bhagavatam (4.6. 42 - 53), kita bisa tahu bahwa Dewa Shiva adalah yang terhebat diantara para Dewa. Selama pelaksanaan Upacara yang dilakukan oleh  Daksha, Yang mana Beliau sangat tidak menyukai Shiva dan istrinya , Durga (Sati) mengorbankan dirinya sendiri ke dalam api. Sati adalah anak perempuan Daksha sendiri dan tidak dapat menerima penghinaan yang dilakukan oleh ayahnya terhadap Shiva. Sementara Shiva dalam meditasinya mengetahui hal itu dan menjadi sangat murka serta berubah menjadi nyala api. Sesudah itu, Dewa Brahma dan para dewa pergi menenangkan Dewa Shiva. Brahma menghibur Shiva dan memanggilnya sebagai “ Dewa Tersayang,” dan menyebutnya sebagai pengendali seluruh alam semesta, kombinasi dari ibu dan ayah dari jagat raya, dan Brahman adalah Tertinggi, di luar ciptaan ini. Di sini kita dapat melihat bahwa Brahma, pencipta sebagian dari alam semesta, memuji Dewa Shiva sebagai salah satu yang tertinggi. Ini adalah untuk memenangkan Dewa Shiva, karena amarahnya dapat menghancurkan alam semesta.
       Ketika upacara agama bisa dilanjutkan dan Daksha mempersembahkan mentega diikuti dengan mantra – mantra  dari Yajur Veda , Dewa Vishnu muncul di situ pada bentuk aslinya sebagai Narayana. Sebagaimana diuraikan dalam  Bhagavatam  (4.7. 18 - 29) segera setelah Dewa Vishnu muncul, semua para dewa, termasuk Dewa Brahma, Shiva, para Gandharva dan orang-orang suci, dengan segera memberi  hormat. Kehadiran Dewa Vishnu mengeluarkan cahaya terang berkilau dari tubuhnya, semua yang hadir disana kalah kilauannya. Semua orang menyembah Beliau. Selanjutnya Dewa Shiva berkata pada Vishnu, “Tuhanku terkasih, pikiran  dan kesadaranku selalu tertuju pada kaki padmaMu, yang mana sebagai sumber dari semua berkah dan segala keinginan, dipuja oleh semua orang suci yang sudah mengalami pembebasan karena kaki padmaMu sangat pantas untuk dipuja. Dengan pikiran yang selalu tetap pada kaki padmaMu, Aku tidak lagi bisa diganggu oleh orang – orang yang menghinaku, menyatakan bahwa kegiatanku tidak murni, Aku tidak keberatan dengan tuduhan mereka, dan aku memaafkan dan menunjukkan belas kasihan, sama halnya Anda menunjukkan  belaskasihan ke semua mahluk hidup.”
       Setelah semuanya memberi hormat kepada Dewa Vishnu, Beliau berkata pada Daksha, “Brahma, Shiva dan aku adalah penyebab tertinggi dari penjelamaan dunia material. Aku adalah Jiwa tertinggi, bagi pencari kesadaran diri. Tapi secara impersonal ( tanpa kepribadian), tidak ada perbedaan di antara Brahma, Dewa Shiva dan Aku. Aku adalah Kepribadian asli dari Tuhan, tapi didalam menciptakan, memelihara dan menghancurkan  penjelmaan kosmis ini, Aku brtindak melalui energy kasar (material ), dan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan, kehadiranku dimana – mana sama. Seseorang yang kurang pengetahuan berpikir bahwa para dewa seperti Brahma dan Shiva adalah bebas tak terikat, atau dia bahkan berpikir bahwa mahluk hidup adalah bebas tak terikat. Seseorang dengan inteligen rata-rata tidak memikirkan kepala dan bagian lain dari tubuh yang terpisah. Dengan cara yang sama, Pemujaku tidak membedakan Vishnu, semua tersebar melalui Kepribadian, dari apapun atau dari setiap mahluk hidup. Seseorang yang tidak berpikir bahwa Brahma, Vishnu, Shiva atau mahluk hidup pada umumnya dipisahkan dari Tertinggi, dan yang mengetahui Brahman, menyadari kedamaian dan yang lain tidak.
       Ini sebagai tanda ketergantungan para dewa terhadap Dewa Vishnu. Dewa Vishnu adalah penyebab awal dari penciptaan alam semesta. Dewa Brahma dilahirkan karena Dewa Vishnu, dan Dewa Shiva dilahirkan dari Dewa Brahma. Ini adalah energi yang berasal dari Dewa Vishnu, dalam bentuk Dewa  Brahma dan Shiva, yang menciptakan dan memusnahkan alam semesta. Dewa Brahma dimanifestasikan untuk melanjutkan penciptaan, sementara Dewa Shiva membantu dalam hal menghancurkan. Dengan cara ini, mereka saling behubungan dan bekerja bersama-sama seperti bagian dari tubuh. Namun, mereka semua bermain dan mempunyai peran yang berbeda dan berpengaruh nyata dalam mengatur alam semesta, tapi tetap tergantung pada Dewa Vishnu. Ketika kita bisa melihat bahwa semua mahluk hidup adalah perbanyakan  dari Tuhan Tertinggi dan energinya, seseorang mencapai kedamaian yang  sesungguhnya.
       Pada kenyataan, disebutkan bila orang suci dan para bakta bisa  melihat dengan cara  demikian akan menjadi pemuja Dewa Shiva, Brahma dan Dewa Vishnu. Suatu kali ketika Dewa Shiva bepergian, beliau bertemu Rsi hebat Markandeya seperti baru selesai melaksanakan meditasinya. Pada waktu itu, Markandeya mempersembahkan puja kepada Dewa Shiva serta memberkati sang Rsi dan menanyakan apakah ada anugerah yang beliau inginkan. Sebagaimana diuraikan dalam pada Bhagavatam  (12. 10. 19 - 22) Suta Gosvami berkata: “Dewa Shiva, adalah dewa terkemuka diantara para Dewa  dan menjadi naungan dari para bakta suci,. Karena dipuaskan oleh pujian Rsi Markandeya. Dewa shiva tersenyum dan berkata kepada sang Rsi: Silahkan meminta berkah kepadaku, diantara para pemberi berkah, kita bertiga--Brahma, Vishnu dan aku—adalah yang terbaik. Bila melihat kita tidak akan sia-sia, karena hanya dengan melihat kita satu makhluk hidup mencapai keabadian. Para Dewa yang menghuni dan mengatur seluruh planet, bersama Dewa Brahma, Tuhan tertinggi Hari dan aku, memuliakan, memuja dan membantu para brahmana yang  suci, selalu tenang, bebas dari ketergantungan materi, berbelas kasih terhadap semua mahluk hidup, benar – benar murni berbakti kepada kami, tanpa kebencian dan diberkati dengan pengetahuan sama. Para Bhakta ini tidak membedakan di antara Dewa Vishnu, Dewa Brahma dan aku, meski berbeda di antara mereka sendiri dan mahluk hidup lain. Oleh karena kamu adalah bakta suci seperti itu, kami memujamu.”
Bersambung…….Posisi Dewa Shiva

Minggu, 19 Desember 2010

IDENTITAS ASLI SHIVA DAN DURGA

Identitas asli Shiva dan Durga
Oleh Stephen Knapp
"sebelumnya saya informasikan bahwa artikel ini saya coba translate dari artikel karya Stephen Knapp.  maksudnya hanya ingin coba ikut menyebarkan karya beliau. semoga tujuan penulisan ini tidak meleset dan menemui sasaran sesuai dengan apa yang diharapkan oleh penulisnya"
  
Dewa – Dewa yang begitu banyak disebutkan  dalam Veda mempunyai  peran dan  fungsi tertentu, sebagai wakil atau pengatur  kekuatan alam yang berbeda. Oleh karenanya mereka tidak sama. Mereka semua mempunyai arti yang  berbeda dan kualitas  tertentu dalam mengatur dan memanage penciptaan alam semesta. Dengan begitu, kebanyakan dari para Dewa tersebut mempunyai  posisi  khusus untuk menolong lebih mudahnya penciptaan, pemeliharaan, dan bahkan penghancuran  alam semesta. 
Analisa dari Veda menyebutkan bahwa Bhagavatam  ibarat buah yang sudah matang  dari pengetahuan Veda, seperti halnya komentar / tafsiran dari Vedanta oleh Srila Vyasadeva Sendiri, kami juga akan paparkan dari apa yang diuraikan Bhagavatam  supaya lebih mudah memahaminya.
Yang paling terkenal dari Dewa – Dewa yang disebutkan didalam Veda terdiri dari tiga yang dikenal sebagai Trinitas: Brahma, Shiva dan Vishnu. Brahma membantu dalam penciptaan dunia, Vishnu memeliharanya, dan Shiva membantu dalam menghancurkannya. Bagi mereka yang berpegang pada Veda, pada  umumnya  dibagi ke dalam tiga kategori utama; yaitu yang memuja Shiva adalah Shaiva, yang memuja  Shakti atau Batari adalah Shakta, dan mereka yang memuja Vishnu ( Vaishnava.) Sekarang marilah kita lihat siapakah sebenarnya Dewa Shiva dan Dewi Durga .
* * *
         Salah satu Dewa yang paling berpengaruh dalam  Veda  adalah Shiva. Dan salah satu yang paling dikenal dari semua batari/Dewi adalah istrinya Shiva, Durga. Mereka juga mempunyai banyak nama / sebutan lain. Antara lain, Durga dipanggil Parvati dan Sati, yang berarti kesucian. Nama Shiva artinya keberuntungan. Shiva memiliki banyak sebutan berbeda sesuai dengan fungsinya. Ketika, beliau  mengekspresikan dirii melalui ruang dan waktu, dikenal sebagai Eshwara. beliau dipanggil Sadashiva ketika berfungsi melalui udara, gabungan dari prinsip  bunyi atau sentuhan. Shiva dikenal sebagai Rudra ketika berfungsi melalui api, gabungan dari prinsip bunyi, sentuhan dan bentuk.
       Shiva adalah perwujudan dan pengendali dari tamo guna , mode dari kegelapan, kelembaman, dan cenderung menghancurkan. Tugasnya membantu menghancurkan seluruh ciptaan alam semesta bila sudah saatnya, seperti halnya bentuk kematian yang kita lihat setiap harinya. Bagaimanapun, kematian ini dan perpecahan juga dapat dipandang sebagai suatu pembaharuan, yang dipandang sebagai bagian dari Shiva.
       Kita dapat menemukan karakteristik lain dari Dewa Shiva pada Srimad Bhagavatam  (4.2. 2 ) dimana dikatakan bahwa Dewa Shiva adalah  Guru rohani/ Spiritual dari seluruh dunia ( Batara Guru ). Beliau berkepribadian tenang, bebas dari permusuhan, selalu puas dengan dirinya. Beliau adalah pemimpin para Dewa. Beliau menjadi Guru spiritual  dari dunia ini, dengan memperlihatkan bagaimana caranya memuja yang Tertinggi. Beliau dipandang sebagai seoarng Bakta/ pemuja yang murni dan terbaik. Oleh sebab itu, beliau mempunyai garis perguruan  rohani sendiri atau sampradaya  yang disebut Rudra Sampradaya yang diajarkan secara langsung lewat beliau. Ajaran beliau hari ini bisa dijumpai  pada Vishnusvami Sampradaya, atau Vallabha Sampradaya.
       Shiva digambarkan sebagai yang terkuat, kedua setelah Tuhan Vishnu.Dengan begitu beliau bukanlah yang Tertinggi, namun hampir sama kekuatannya. Walaupun beliau tidak ingin mencapai apapun di dunia materi ini, namun beliau selalu membantu orang orang didunia ini mencapai tujuannya, ditemani oleh kekuatan maya yang berbahaya batari Kali dan Batari Durga . Mereka melayani shiva dengan membunuh berbagai macam iblis yang menggangu dan orang – orang yang tidak Taat pada Tuhan. Peperangan mewakili kekuatan Kali yang menghancurkan. Kadang kala kita melihat gambar dari satu bentuk seram dari Kali berdiri dengan satu kaki pada tubuh Shiva. Ini symbol dari permohonan shiva kepada Kali dengan begitu beliau bisa menenangkanNya supaya tidak membunuh semua mahluk hidup di dunia. sehingga Shiva bisa mengontrol kekuatan material. Shiva juga mengontrol kekuatan penghancur/ destruktif,  tamo guna , mode dari kegelapan. Dibantu oleh Kali dan Durga untuk tujuan ini. Durga menolong Shiva tetap  memelihara mahluk hidup pada umumnya tetap berada dalam situasi kegelapan dari kebodohan. Oleh sebab itulah kenapa Durga dan Kali digambarkan  sebagai kekuatan berbahaya. Hanya mereka – mereka yang serius dalam menjalani kehidupan spiritual/batin dilindungi dari keadaan gelap ini.
       Shiva sering terlihat sebagai satu sosok yang  tampan, dengan rambut panjang.  dari rambutnya tersembur Ganga (Gangga) Sungai suci dan berisi bulan sabit. Warna badan beliau putih bercahaya kebiruan, tergambar mata  ketiga di antara alis dan dahi, dan mempunyai empat lengan tangan (simbul  kekuatan alam semesta) satu tangan menggenggam Trishula (tombak bermata tiga, symbol dari keahliannya mengatur ketiga mode dari sifat alami/triguna), Damaru (drum kecil berbentuk gelas, bila disuarakan mewakili bahasa atau abjad), dan memperlihatkan mudra (gerak tangan) dari Abhaya (perlindungan) dan Varada (memberikan berkat).
       Drum Shiva juga sering disebut sebagai simbol srishti , penciptaan;  abhaya ( posisi tangan memberi berkat) simbol sthiti , atau pemeliharaan; kaki beliau yang menginjak ke bawah sebagai simbol tirobhava , atau effek terselubung; dan satu kaki terangkat maknanya berkat( anugraha ), anugrah untuk lebih mendalami tentang ilusi yang diakibatkan oleh ego. Beliau terlihat membawa kampak sebagai simbol samhara , penghancuran.
       Kadang kala beliau terlihat dengan delapan, sepuluh atau bahkan sampai tigapuluh dua tangan. Ini mewakili berbagai potensi dan mengandung hal-hal seperti: Akshamala (tasbih, symbol ahli  dalam ilmu pengetahuan batin), Khatvanga (tongkat yang memperlihatkan ahli dalam pengetahuan gaib), Darpana (cermin sebagai symbol bahwa penciptaan adalah refleksi dari bentuk kosmisnya), chakra, simpul tali, busur, tombak Pashupata, bunga teratai, pedang, dan seterusnya. Beliau sering digambarkan duduk dengan memakai pakaian dari kulit harimau. Kulit harimau symbol dari perintahnya terhadap keinginannya, yang sering terdapat pada  orang-orang umumnya  seperti harimau.
       Shiva juga sering digambarkan dengan ular melilit di sekitar lengan tangannya, pinggang, leher dan rambut. Ular sering terlihat menakutkan. Sehingga ini sebagai symbol  Shiva bebas dari ketakutan. Ular juga menandakan waktu. Kalau ular beracun menggigit seseorang, beberapa menit kemudian orang itu akan mati. Dan waktu mempengaruhi semua orang tanpa bisa dihindari, cepat atau lambat. Jadi Dewa Shiva adalah Dewa Kala ( waktu ) dan Dewa kematian. Ular ini juga mengindikasikan bahwa Dewa Shiva  dikelilingi  oleh kematian tapi tidak bisa menjangkau beliau..
       Shiva juga telihat penuh dengan abu dari pembakaran mayat dan dioleskan di sekujur tubuhnya. Ini disebut vibhuti . Ini simbol kematian atau ketidak terikatan dari dunia dan panca indria. Itu juga menandakan bahwa tubuh kita, tanpa daya. pada akhirnya juga akan menjadi abu ketika meninggal dan dikremasi. Dengan demikian, kita harus buang jauh – jauh identitas badan ini dan menyadari identitas nyata kita. Abu adalah tanda bahwa Shiva menolak keberadaan Dunia ini.
       Terkadang Shiva digambarkan memakai kalung tengkorak. Tengkorak menyatakan bahwa beliau adalah Dewa penghancur dan pengatur perputaran  alam dari muncul dan menghilangnya ciptaan dunia material
       Salah satu wujud yang paling indah dari Shiva dilukiskan pada posisi tariannya, dikenal sebagai Nataraja, raja dari Kesenian ( tarian ). Seperti Nataraja, Shiva menggenggam drum damarunya pada tangan kanan. Ini simbol nada , irama dari perkembang biakan. Pada tangan lainnya, menggenggam api penghancuran. Bersama-sama ini menandakan keduanya penciptaan dan penghancuran, sebagai irama dari dunia materi. Tangan kanannya pada posisi memberi berkat dan perlindungan. sebagai Nataraja, beliau juga memakai pakaian kulit harimau, yang beliau bunuh. Ini mewakili ego, yang harus dilawan ketika menyerang dan harus dibunuh oleh pengetahuan dari guru, atau kebijaksanaan dari Nataraja sendiri. Sebagai Nataraja, satu kakinya berdiri diatas tubuh Mahamaya, ilusi penyebab dari semua penderitaan. Kaki yang lain dinaikkan, sebagai symbol dari pencapaian turiya  keadaan alam bawah sadar manusia dari bangun, bermimpi, tidur lelap, dan pengaruh dari pikiran dan penciptaan. Dengan demikian, beliau sepenuhnya bebas dari semua ini.
       Ada banyak cerita yang menjelaskann kenapa Shiva tampak seperti itu. Antara lain, Dewa Shiva terkadang nampak dengan mata ketiga di antara alis dan dahinya. Mata ketiga ini mewakili mata dari kebijaksanaan, atau indera keenam. dua mata yang lain mewakili bentuk seimbang dari cinta dan keadilan, Dengan demikian, Dewa Shiva terlihat tidak terlalu kasar atau pun juga toleran, tapi melihat segalanya secara proporsional sesuai dengan cinta, keadilan, dan pengetahuanya secara menyeluruh., mata ketiga Shiva juga mewakili matahari, bulan dan api, yang maksudnya sebagai penerang alam semesta. Bagaimana Shiva memperoleh mata ketiganya, dijelaskan bahwa suatu hari istrinya Shiva, Parvati menutup mata Dewa Shiva dengan kedua tangannya dan tiba – tiba seluruh dunia diliputi oleh kegelapan. Kemudian Shiva berkehendak menjelmakan mata ketiganya yang dimanifestasikan dari cahaya, panas dan api.
       Ada lagi Cerita lain: suatu ketika sungai Gangga diturunkan ke bumi, ketika diturunkan, kekuatannya bisa menghancurkan dunia, untuk menghilangkan effek hancurnya dunia, Shiva menerimanya pertama kali pada kepalanya, terpancur disana sampai terpencar airnya sehingga effeknya lebih ringan. Sungai Ganga dipandang telah memasuki alam semesta ketika Tuhan Tertinggi pada inkarnasinya sebagai Vamanadeva menendang kulit luar dari alam semesta dengan jari kakinya, dengan demikian bergabung dengan  Lautan Karanadakashayi, air suci yang mengelilingi alam semesta. Inilah yang menjadi gangga yang suci. karenanya, ini dipandang sebagai air pembasuh kaki dari Tuhan tertinggi. Sehingga Dewa Shiva dengan senang hati menerima di kepalanya.
       Air Ganga yang menyebar dari Shiva dipandang sebagai aliran dari pengetahuan dan pengabdian kepada Tuhan. Dewa Shiva dikenal sebagai Bakta terbaik dari Tuhan Krishna, Vishnu, atau Tuhan Rama, itulah salah satu makna dari adanya aliran Ganga pada kepala Dewa  Shiva.
       Sesuai dengan Bhagavatam  (10. 41. 15): “Air dari sungai Ganga [Ganges] mensucikan ketiga dunia, bisa menjadi suci bila mandi dengan air pembasuh kaki [Tuhan Vishnu]. Dewa Shiva menerima air itu pada kepalanya, dan dengan kesucian air itu , anak – anak dari  Raja Sagara mencapai sorga.”
       Cerita lain adalah ketika para raksasa dan para dewa mengaduk lautan susu, banyak benda yang dihasilkan dari situ. Salah satunya adalah bulan, yang diambil oleh Shiva dan ditempatkan pada rambutnya. Ini mewakili tahap dari bulan atau waktu yang berlalu, satu - satunya perhiasan untuk Shiva karena beliau menginginkannya. Bulan Purnama juga menandakan kebahagiaan dari hidup, terutama ketika tujuannya untuk jalan spiritual. cahaya bulan memberikan inspirasi dan kekuatan hidup spiritual, sama halnya cahaya bulan memelihara seluruh tanaman. Ini mewakili cahaya sejuk dari pengetahuan tentang Diri, dan pengetahuan tentang perjalanan hidup juga terkandung dalam maknanya.
       Benda lain yang dihasillkan dari pengadukan lautan susu  adalah racun yang menakutkan( hala-hala ). Shiva meminumnya untuk mencegah tersebarnya racun tersebut karena berakibat kematian semua mahluk hidup di dunia. Bagaimanapun, Parvati, diperingatkan di sini, untuk tidak menyentuh lehernya yang bisa mengakibatkan racunnya turun ke badan., disinilah beliau mempertahankan racun itu , sehingga membuat lehernya berwarna biru..
       Shiva sering dilukiskan berdiri didampingi  bantengnya, Nandikeshvara atau Nandi (penuh kegembiraan). Secara simbolis, Nandi mewakili kecenderungan hewan, seperti keinginan untuk melakukan hubungan kelamin, patuh dan jinak pada tuannya. Dengan demikian, shiva menunggangi Nandi, dan selalu taat pada perintahnya. Nandi juga mewakili kekuatan dan kejantanan. Dia sering dilihat di candi Shiva pada posisi berbaring di depan tempat pemujaan, menatap ke arah Dewa Shiva. Nandi juga mewakili jivatma , jiwa individu, dan sifat – sifat binatang.  Sifat tersebut semakin mendorong jauh kita kedalam dunia material. Kecuali bila kita bisa mengatasinya.
Bersambung……………Para .Bhakta Krisna sangat menghormati Shiva dan Shiva menghormati mereka.

Jumat, 17 Desember 2010

Jalan Kebaktian ( Devotional Service )

Jalan Kebaktian ( Devotional Service )



“Bagi Mereka yang secara tetap memuja dan berbakti kepadaKU dengan penuh cinta, Aku memberikan pemahaman dan kemudahan untuk kembali kepadaKU.” (Tuhan Krishna, Bhagavad gita, 10. 10)
Tanpa memandang aliran agama tertentu, sebutan, atau daerah, prinsip dari agama pada dasarnya hampir sama: berserah diri kehadapan Tuhan, tidak menjadi egois,  dan hidup berdampingan diantara sesama . Dalam tradisi Veda Khususnya para Vaisnava, tujuan akhir dari kehidupan spiritualnys adalah berubahnya kesadaran . Jiwa terbelenggu, dijerumuskan pada kesadaran yang terpusat pada objek semu dan sementara, sementara kesadaran murni adalah kebalikan dari situasi tersebut. Tujuan hidup manusia adalah selalu berpikir tentang  Tuhan dan mengendalikan pikiran.  Pada  akhirnya  bhakti Yoga, atau  Devotional  service disarankan bagi penekun spiritual, satu hal yang paling berharga untuk dibicarakan. Berbagai cara bisa dilakukan supaya Kesadaran pribadi terhubung dengan kesadaran tertinggi bisa . Yang paling terpenting adalah  Bhakti yoga dengan menyebutkan nama suci Tuhan “Hare Krishna Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare, Hare Rama Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare”.
Untuk mempelajari lebih jauh tentang pengetahuan Bhakti Yoga ini, seseorang dianjurkan untuk mencari seorang guru spiritual yang bonafide. seseorang harus menghalihkan kesadaran mereka dari sekedar mengejar kesempurnaan materi ke kesadaran Tuhan. Menjelaskan semuanya ini sangatlah sulit, oleh sebab itu cobalah mencari satu sosok mulia dari kisah terdahulu yang pernah diceritakan dan bukan hanya sekedar tradisi spiritual . dan Veda memiliki semuanya ini, mulai dari kitab sastra, puisi, dan komentar yang tersebar dan masih dibicarakan sampai saat ini di seluruh  dunia. Ada itihasa seperti Ramayana, Mahabharata, dan juga Purana, disertai dengan komentar/tafsiran yang tak terhitung jumlahnya dan telah dirangkum oleh orang – orang suci zaman dulu. Meskipun demikian kedalaman dan ruang lingkup dari pustaka Veda sangatlah luas, pada dasarnya kesimpulan akhirnya sama: Tuhan Maha tinggi, oleh sebab itu, kita harus selalu sibuk dalam pelayanan Bakti kepadaNya.
Orang – orang pada zaman ini, oleh para  ahli Veda, Guru – guru Vaishnava, menyarankan bukan saja menyebutkan nama suci  Tuhan, tapi juga menghindari kehidupan yang berdosa, aktivitas yang paling berbahaya yang membuat jatuh dalam kegiatan berdosa dibagi menjadi empat kategori: memakan daging, Berjudi,  sex bebas, dan mabuk- mabukan.
Menyebutkan nama suci Tuhan dengan penuh pengabdian , bisa dipastikan mencegah kita terjerumus  kedalam kegiatan yang berdosa tersebut. Larangan seperti memakan daging dan lainnya dikenal sebagai empat prinsip dasar, dan hanya dengan mematuhi standar ini , seseorang bisa mengalami kemajuan dalam kehidupan spiritualnya. Seperti Tuhan Krisna, Kepribadian Tertinggi dari Tuhan, bersabda pada Bhagavad Gita bahwa semua upacara ritual yang dijelaskan dalam veda hanya diperuntukkan untuk satu orang dan tidak ada seorang pun yang tahu di balik semua itu.  Seseorang yang mengetahui alasan dibalik menyebutkan nama suci Tuhan dan empat prinsip dasar diatas, mendapatkan pemahaman yang tertinggi.

Jadi apa sebenarnya tujuan dari penulisan ini? Kenapa harus ada boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan pada kehidupan rohani/spiritual? Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa obyek utama kita sebenarnya mengubah kesadaran (self Realization). Sekarang ini kesadaran kita terpusat pada masa depan / yang akan datang, seperti dimana kita bisa makan, tidur, mendapatkan jodoh, mempunyai waktu baik, dsb. kesadaran Kita juga kadang kala menyelidiki masa lalu yang telah berlangsung, khususnya peristiwa yang tidak bisa kita lupakan. “Aku tidak dapat mempercayainya dan demikian disebutkan itu ke aku; Aku tidak dapat membahagiakan mereka; Aku tidak dapat meyakini, aku harus menunggu lama di bandara  udara; Aku tidak akan pernah menumpang pesawat itu lagi.” Sehingga banyak sekali pikiran kita berbicara sepanjang hari, dan semuanya mempengaruhi kesadaran kita.
Tujuan dari kehidupan spiritual adalah untuk mengubah cara berpikir kita. Kebahagiaan utama kehidupan didapatkan dari  cinta. Melewatkan waktu bersama teman - teman, keluarga, atau dengan sahabat, saling mengasihi, sehingga timbul rasa bahagia. Alangkah baiknya bila emosi yang kuat pada seluruh kehidupan, baik materi dan spiritual, dialihkan kepada mencintai Tuhan Krishna. Walaupun setiap orang memetik pelajaran berharga dari pengalaman  hidup yang lalu, tapi hanya tiga hal penting yang perlu disadari : Tuhan adalah pemilik dari segalanya, beliau  adalah teman kita, dan beliau  adalah kebahagiaan utama. Supaya Tuhan bisa menikmati pastinya harus ada yang dinikmati. Disinilah jiwa individu datang dalam permainan Tuhan. Sebagai bawahan, ibarat  menyalakan api unggun dari api asli, kita lahir supaya bisa dinikmati oleh Tuhan. Oleh karena kita punya kebebasan yang terbatas, kita punya satu kecenderungan untuk melupakan kenyataan ini dan berpikir bahwa kitalah sang penikmat. Ketika cara berpikir  kita berganti dari menikmati  ke dinikmati, kita telah mencapai kesempurnaan dalam hidup.
Jadi kita punya resep yang diberikan oleh orang- orang suci. Menyebutkan nama suci  Tuhan adalah kegiatan religious yang paling effektif untuk orang – orang  pada zaman ini. tidak semua orang akan mempraktekkannya. Sekalipun kita mengadopsi cara  tersebut, seberapa seringkah kita harus melakukan chanting ini ( menyebutkan nama suci Tuhan)? Betapapun, kita punya tanggungjawab lain yaitu bekerja  setiap hari . Kalau kita tidak bekerja, kita tidak akan mempunyai uang untuk merawat / memelihara rumah kita, teman - teman, dan keluarga. Kalau kita tidak membersihkan rumah, segalanya akan semakin kotor dan tidak enak untuk dipandang Kalau kita tidak makan tepat waktu, kita akan semakin lapar dan capek. Kewajiban ini sudah pasti harus dijumpai, tapi tugas rutin menyebutkan nama suci Tuhan tidak harus ditolak. Oleh sebab itu para suci dari Vaishnava memberikan petunjuk seberapa banyak penyebutan nama Tuhan ini harus dilaksanakan. Karena Nama suci Tuhan sungguh sangat kuat dalam memberikan kebebasan, Chanting ini biasanya dilaksanakan dalam nuansa tidak terlalu formal. Pertama tama ambil japa mala, sejenis tasbih yang terdiri dari 108 bead bersatu seperti rantai. mala digenggam pada tangan kanan, pada waktu yang sama jari terfokus pada satu bead. Pada masing-masing bead lafalkan maha mantra diatas, kemudian beralih pada bead selanjutnya bila sudah selesai satu bead, sampai ke 108 bead. Itu baru satu kali putaran japa. Angka minimum dari japa ini disarankan enam belas kali putaran setiap harinya.
Bagi mereka yang telah terbiasa dengan Bahasa Sansekerta, melafalkan Mahamantra tersebut tidaklah sulit. karena Lidah telah terbiasa mengatakan “ Krishna ”, “Rama ”, dan “ Hare ”, Jadi setelah terbiasa dengan mantra tersebut, proses chanting tidaklah terlalu lama. Dalam tradisi formal veda, seseorang akan melihat seorang brahmana melaksanakan upacara agama melafalkan mantra – mantra dengan sangat cepat. Mereka tanpa kesulitan menggunakan Bahasa Sansekerta, melafalkan semua sabda dengan sempurna pada waktu yang sama. Pada tahun 1980, ada seseorang yang terkenal dalam acara televisi karena mempunyai kemampuan berbicara secara  cepat. John Moschitta, Jr. muncul pada acara komersil untuk mainan anak-anak. seperti Mesin kecil berbicara dengan sangat cepat dan memberikan keterangan yang sesuai sebanyak – banyaknya dalam jangka waktu yang ditentukan.  para  brahmana yang bertugas melaksanakan yadnya juga hampir sama, melafalkan dengan cepat mantra tapi tetap pada koridornya.
Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan Bahasa Sansekerta melafalkan Mahamantra diatas sangatlah sulit. Apalagi dianjurkan untuk tidak salah dalam melafalkan intonasinya, membuat semakin sulit untuk bisa melaksanakannya dalam 16 putaran setiap hari, terutama pada permulaan. Meskipun sulit, kita harus ingat tujuan akhir dari kegiatan ini, yaitu mengubah kesadaran Kita dan ini hanya bisa terjadi kalau kita melakukannya. Kita tidak bisa mendapatkan ini semua hanya dalam semalam, terutama kalau kita sibuk dengan aktivitas yang berhubungan dengan hal-hal yang sedang kita coba untuk lupakan. Ini sama seperti kalau kita berkata saya tidak mau pusing memikirkan makanan lagi, sementara pada waktu yang sama menghabiskan waktu seharian untuk pergi ke restaurant.
Jadi bulatkan tekad untuk berkata bahwa menyebutkan nama suci Tuhan enam belas kali putaran setiap hari wajib dilakukan , seiring dengan mengontrol diri dari empat pilar kehidupan yang berdosa. Dengan melakukan ini jangan berpikir  bahwa masalah kita selesai! Seyogyanya tidak, Kehidupan dunia materi penuh dengan( rwabineda) diatas dan bawah, tinggi dan rendah. Selama kita terpuruk, kemana kita mencari  bimbingan? Apa yang terjadi kalau tidak ada seorang guru spiritual di sekitar untuk menolong kita? Bagaimana kita menyelesaikan masalah kalau kita telah disibukkan dengan kegiatan bhakti pada Tuhan ( Devotional service)?
Untuk menemukan solusinya, mari kita lihat permasalahan umum yang kita jumpai sehari - hari. Yang pertama kondisi negatif adalah kekecewaan. Mereka mengatakan bahwa semua pikiran manusia dapat digolongkan ke dalam salah satu dari dua kategori: menyenangkan atau menyedihkan. Satu menit kita berbahagia karena mendapatkan apa yang sesuai dengan keinginan kita. Tapi Menit berikutnya kita bersedih melihat kenyataan barang berharga kita telah hilang. Kekecewaan timbul dari kegagalan untuk mencapai suatu kondisi positif, terutama kalau sesuai dengan harapan kita. Contohnya, katakanlah kita bekerja setiap hari dengan mengendarai mobil, tapi suatu hari tiba – tiba terjadi macet yang sangat panjang. Telah Terjadi kecelakaan  beberapa  mil di depan kita, dan sekarang kemacetan dirahkan ke jalan lain. Secara alami di situ akan timbul  kekecewaan karena kita berharap sampai ditempat kerja tepat waktu. Kedatangan di tempat kerja tepat waktu adalah kondisi positif yang kita harapkan, dan sekarang tiba-tiba tidak sesuai dengan rencana.
“apabila kita berkonsentrasi pada objek kesenangan ( indria ), seseorang membangun keterikatan padanya, dan indria semakin berkembang, dan dari sana timbul kemarahan.” (Tuhan Krishna , Bhagavad -gita, 2. 62)
Dengan kata lain, munculnya  kondisi negatif sebenarnya di akibatkan oleh kekecewaan. Kondisi ini dikenal sebagai marah. Kita menjadi sangat marah karena gagal untuk mencapai keinginan. marah lebih buruk dibandingkan dengan kekecewaan karena marah dapat membuat bingung, yang membuat kita kehilangan akal. oleh karena tidak bisa menimbang hal baik dan buruk, kita bisa bertindak kejam. Tindakan kejam membawa kita ke lebih banyak kondisi negative yang sangat buruk seperti apa yang kita bilang dari awal; karenanya tindakan ini dikenal sebagai aktivitas yang bukan berlandaskan nalar. Orang berkata, “Potong hidungmu karena wajahmu buruk ”, gambaran  pikiran yang tidak masuk akal. Kalau seseorang melihat wajah yang buruk rupa lalu memotong hidungnya itu tidaklah akan mengubah keadaan wajahnya menjadi menarik namun sebaliknya, makanya jangan lakukan apapun untuk melawan kemarahan.
Lalu kenapa bhakti yoga cocok untuk semua ini? Bagaimana kita menyelesaikan masalah kita terutama kekecewaan dan kemarahan tanpa kehadiran seorang rohaniwan untuk menolong kita? Contoh tersebut diatas hanyalah sebagian kecil  dari kekecewaan dan kemarahan, kondisi negative yang lebih besar bisa kita jumpai ketika terjadi tragedi seperti kematian, kehilangan kekayaan, dan perceraian. Bagaimanakah Krishna bisa menolong kita dengan keadaan ini? Lebih jauh, bagaimana mungkin kita bisa menerima keadaan dimana kita tidak percaya pada diri sendiri?
Solusi masalah ini bisa ditemukan pada bhakti yoga itu sendiri. Kekecewaan berhubungan dengan maya, atau yang mana bukan Krishna, ini tidak pernah bisa dibasmi. Rahasia suksesnya adalah mengurangi effek dari kekecewaan. Ini dapat terjadi bila tujuan utama kita adalah bhakti yoga. Lebih – lebih bila kita terlibat dalam kegiatan Pelayanan bakti kepada Tuhan, pengaruh dari keinginan- keinginan  yang menimbulakan kekecewaan bisa dikurangi. Tujuan  utama kita tiap hari adalah untuk melaksanakan pelayanan bakti kepada Tuhan sebanyak yang kita bisa. Pelayanan Tuhan( kebaktian ) ini meliputi menyebutkan nama suci Tuhan, mendengarkan kisah tentang Tuhan, mengingat kebesaran Tuhan, bersembahyang kepada Tuhan, dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Kalau kita sudah melakukan chanting enam belas putaran sehari tapi masih saja ada rasa marah dan sedih, kita harus melakukan chanting lebih dari 16 putaran  atau ikut dalam pelayanan kebaktian. Waktu luang bisa dimanfaatkan untuk  membaca teks Veda, menonton film klasik, mendengarkan kirtan ( nyanyian mengagungkan Tuhan), mengunjungi tempat suci, melihat gambar- gambar Dewa, melakukan persembahan pada arca Tuhan, memasak persiapan makanan yang sattwika disembahkan kepada Tuhan, dsb. Pilihan lain sudah tidak ada lagi..
Seperti disebutkan sebelumnya, Krishna adalah penikmat , sehingga beliau adalah penikmat nyata dari Pelayanan bakti. Ketika kita dihadapkan pada suatu kesulitan, satu keadaan dimana kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, jalan keluarnya adalah melaksanakan kegiatan yang  membuat Krishna bahagia.
Hanuman, abdi setia dari Tuhan Rama, satu kali dihadapkan pada suatu keadaan sulit dimana dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hanuman diamanatkan  oleh Rama, salah satu inkarnasi dari Krishna, untuk menemukan dimana Sita, istriNya. Ketika mencapai kerajaan Lanka dimana Sita berada, Hanuman memperlihatkan kekuatan hebat dan Raja dari Lanka, Ravana, jadi berduka. Bila dipikirkan, samasekali tidak ada ide untuk menemukan Sita tapi sukses kembali ke Rama, Hanuman sudah putus asa dan berniat bunuh diri. Tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, tapi pada akhirnya memutuskan untuk melanjutkan  misinya karena hanya dengan tetap hidup dia mempunyai kesempatan untuk melayani Rama. Tidak melaksanakan pelayanan kebaktian tidak akan membuat siapapun menjadi  baik. Dia memilih jalan pengabdian sebab sekalipun dia gagal, paling tidak dia telah mencoba untuk memuaskan Rama.
Tentu saja semuanya akan diselesaikan pada akhirnya, dan tidak ada  seorangpun yang  lebih kuat bila dibandingkan dengan Hanuman. Kita dapat memetik pelajaran yang sama untuk keadaan kita. Kita pasti akan dihadapkan pada keadaan sulit yang tak terduga walaupun secara tulus kita ikut dalam kegiatan pelayanan Bakti, tapi arah kita / tujuan kita adalah untuk menyenangkan Krishna, penikmat utama. mempertahankan tujuan ini dipikiran kita, baik guru spiritual, pada instruksinya, atau Supersoul/ paratman  bercokol dalam hati akan sungguh – sungguh membimbing kita pada jalan yang benar.